Bismillah, Nafas Baru

Sudah lama tidak update blog. Mau merangkum peristiwa-peristiwa penting beberapa bulan terakhir ah.

Akhirnya Lanjut Kuliah Lagi!

Setelah sekian lama vakum, hmm oke haruskah aku menyebutkan juga kalau udah kuliah 6 tahun tapi belum lulus-lulus (padahal normalnya cukup 2 tahun saja), akhirnya niat ingsun mulai mengaktivkan diri lagi. Karena masa study sudah over time maka mau tidak mau harus readmisi (semacam mengulang registrasi supaya dapat NIM baru demi bisa memperpanjang masa kuliah). Bersyukur di UKSW mempunyai kebijakan ini. Kalau di universitas lain, apalagi universitas negeri pastilah sudah di drop out aku.

Biayanya mayan menguras dompet dan perasaan juga. Untuk readmisi sekitar 3 jutaan, registrasi mata kuliah 3 jutaan lebih, bulan ini udah harus registrasi semester baru 3 jutaan lagi. Cukuplah untuk membuat kembang kempis. Haha. Pokoknya kudu lulus tahun ini. Kupengen segera punya foto wisuda lagi donk.

Mas Gal Resign dari Bank!

Tak perlu lah ya kuceritakan detail kenapa resign. Intinya ada masalah di kantor cabangnya yang mengharuskan mas Gal untuk mutasi ke daerah Timur. Wagelaseh. Tentu saja ogahlah mutasi ke sana. Jadi diambillah keputusan untuk resign saja.

Tanggal 22 Feb 2019, ikut ke Semarang menyerahkan surat pengunduran diri

Campur aduk rasanya!

Bingung, mo dikasih makan apa ni aku sama anakku? Mo bayar cicilan pake apa? Mo bayar ART pakai apa pula? Yes, ku punya gaji juga sih, tapi mayan berat juga kalau hanya 1 gardan.

Takut. Takut gimana mau menyampaikan ke ortu. Sebenarnya bukan takut yang gimana-gimana sih, lebih ke arah takut membuat mereka terluka, karena mereka bangga banget dengan pekerjaan Mas Gal.

Tapi di balik semua itu, sebenarnya ada rasa syukur dan hati yang lega. Mungkin ini jawaban dari Allah atas doa-doaku dulu, atas rasa bimbangku ketika mengiyakan lamaran mas Gal kala itu. Alhamdulillah sekarang Mas Gal terbebas dari tempat kerjanya dulu.

Pict from : pixabay

Tau kan ya, 2-3 tahun belakangan ini gencar disuarakan masalah riba di sosmed. Semakin kubaca, semakin menghantui. Aku takut anakku dibesarkan dengan makanan dari harta yang asal usulnya tidak disenangi Allah. Sering kupanjatkan doa “Ya Allah mampukan kami menafkahi anak-anak kami dari harta yang engkau berkahi. Jauhkan keluarga kami dari riba.” Dan aku menganggap mundurnya mas Gal dari Bank adalah petunjuk dari Allah tentang hal ini.

Btw, aku tidak melayani diskusi/perdebatan tentang riba di sini ya. Karena pengetahuanku tentang hal ini sungguh masih dangkal. Kalau mau bertanya, mendebat, atau apapun itu silakan ke pihak yang lebih mumpuni.

Btw lagi, kami memang beum 100% bisa meninggalkan riba. Kami masih punya cicilan, gaji kami lewat bank, kami menyimpan uang kami juga di Bank. Tapi paling tidak, sedikit demi sedikit kami berusaha menghindarinya. Dalam kasus kami ini gaji mas Gal lah yang ambil bagian paling besar. Okelah dia dibayar karena dia “kerja” di BUMN. Tapi tidak bisa dipungkiri, bahwa sebagiannya, tunjangannya, bonusannya dari mana lagi kalau bukan dari keuntungan/bunga minjemin duit ke nasabah.

Sekali lagi, aku tidak open diskusi masalah ini ya. Kamu boleh setuju, boleh tidak. Masing-masing orang punya penilaian dan pertimbangan sendiri. Beda pandangan oke, musuhan jangan.

Dan janji Allah memang selalu dipenuhi-Nya. “Ketika kita meninggalkan sesuatu karena Allah, pasti Allah akan menggantinya dengan yang lebih baik.”

Tidak berselang lama dari resignnya mas Gal, Alhamdulillah mas Gal diterima kerja di PT Sritex Group. Luar biasa baik ya Gusti Allah.

Lalu selesai sampai di sinikah kisahnya?

Belum! Cerita masih berlanjut…

Masih ada 1 tugas besar kami -> menceritakan ke orang tua kami. Setelah mengumpulkan keberanian, kami pun memberitahu mereka. Memang ini bukanlah hal yang mudah untuk mereka terima.  Mereka tampak terpukul Tidak tega kami melihatnya. Tapi bagaimana lagi, keputusan sudah diambil. Semoga waktu akan menyembuhkan kekecewaan meraka. Dan semoga tidak lama. Untungnya dari pihak Bapakku tidak keberatan akan keputusan ini.  Jadi cukuplah menguatkanku.

Setelah memberitahu kedua orang tua, maka tugas selanjutnya adalah mempertanggungjawabkan pilihan dan keputusan tersebut. Aku dan Mas Gal selalu berulang-ulang mengatakan “Kita tim yang solid dan kompak. Apapun situasinya hadapi berdua.” (Romantis ya….hahaha). Pokoknya bangkit berdua. Bahu membahu membangun masa depan keluarga kecil kami. Saling menguatkan satu sama lain.

Bismillah…ketika berjalan di jalan yang disenangi Allah, InsyaAllah ridho-Nya kami peroleh, InsyaAllah pula langkah kami akan dimudahkan.

Pada intinya, semua pasrahkan ke Allah. Berdoa. Mohon selalu petunjuk dan bimbingannya. Karena semua yang terjadi pastilah karena adanya approval dari Allah. (#MacakMamahDedeh).

Ya itulah ringkasan peristiwa penting belakangan ini.

Hadapi. Jalani. Nikmati.

 

Nb : Maafkan bahasanya kaku. Udah lama vakum nulis euim. Kagok.

0 comments
0 likes
Prev post: Kaleidoskop 2018Next post: Mencoba Fokus

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *